RSS

Author Archives: smartata

About smartata

Dig your talent!

Seperti (ibadah) malam tahun baru aja..

Akhir pekan lalu, tepatnya Sabtu 19 November 2016, kami keluarga besar Marolop Silaban merayakan ultah bapa ke 73 tahun di BSD City. Acara yang singkat: berdoa, menyanyikan lagu Happy Birthday, meniup lilin dan menyantap kue tart coklat seukuran 15×15 sentimeter.

Perayaan ultah bapa terlewat sehari, karena kesibukan kami masing-masing. Hampir lewat lagi sehari, karena kami rayakan malam hari sekitar jam 10 malam-sepulangnya ka Beka dari reuni SD St. Agustinus di Bandung. Dan kami semua pun baru pulang malam itu dari pesta nikah Desy Pakpahan-sepupu kami di Kelapa Gading which is jauh dari BSD.

Maaf ya pak..Padahal kami selalu tepat merayakan ultah bapa, meski itu hanya dengan sepotong kue kecil. Dan jelang perayaan itu salah satu dari kami ada berkata “Seperti malam tahun baru ya..suasananya.” Haha..iya juga pikirku..apalagi hampir kami semua udah pakai baju tidur semua..nggak ada yang cantik dan ganteng!

Kalau ingat dulu ketika kami masih kecil-kecil, perayaan ultah sangat sederhana dengan kue puding buatan mama, pohul-pohul (traditional Bataks cake terbuat dari tepung dan parutan kelapa) atau kue kaleng pemberian Opung Kemang (mantan Kepala Farmasi Bandung) yang sangat baik kepada kami.

Perayaan juga dilangsungkan di rumah sederhana di Jalan Jakarta Bandung. Di tempat itu kami tumbuh dan besar bersama anak-anak Bedeng, yang sekarang sudah tersebar ke Jakarta, Bogor, dan Semarang.

Mengenang masa-masa itu, kami sedih sekaligus bangga bahwa bapa dan mama membesarkan kami dalam kekuatan dan kesederhanaan. Tak perlu istimewa untuk membahagiakan diri dan keluarga. Sepotong kue kecil atau sekaleng kue pemberian Opung adalah saat yang dinanti-nantikan setiap ultah tiap-tiap kami.

Dan mama biasanya selalu menyimpan kue kaleng itu- yang kami dapat saat tahun baru ke rumah Opung. Kami ke Jakarta juga ketika Opung sudah pindah untuk salam Opung, nanguda dan tulang (anak-anak Opung) “Selamat Tahun Baru.” Dan pulangnya kami dibekali kue kaleng: ada Serena, Monde, dan sirup. Jabatan Opung Marisi Sihombing seingat saya  sebagai staf ahli Menteri Kesehatan RI.

Dan  waktu itu pergi ke Jakarta naik mobil angkot Cicaheum Ledeng punya uda Kiki (Aritonang). Tapi kami senang bukan main sepanjang perjalanan karena akan bertemu Opung yang rumahnya di Kemang.

Ya..suasana itu kurindukan. Kebaikan Opung juga..(Opung doli sudah dikubur di Taman Makam Pahlawan)

Orang tua kami yang sederhana, bapa dan mama are the best yang sudah mendekatkan kami dengan saudara-saudara. Semoga kesederhanaan itu tetap ada, meski kami sekarang sudah tidak tinggal di Jl Jakarta lagi.

Happy birthday Bapa M. Silaban. You are the best Dad.

Suasana perayaan ultah bapa yang kelewat sehari, 19 November 2016

Suasana perayaan ultah bapa yang kelewat sehari, 19 November 2016. Collage by Rebekka Silaban

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on November 24, 2016 in Uncategorized

 

Ultah Tempo ke 45, Ikuti Lomba Blog Indonesiana

Tempo–sebuah media besar di Indonesia merayakan ulang tahun ke 45 nya tahun 2016  ini. Sebagai rangkaian dari perayaan, Tempo menggelar Lomba blog Indonesiana, berhadiah 45 smartphone. Keren kan..

Siapapun bisa menjadi pesertanya dengan mengikuti persyaratan yang sudah ditetapkan. Temanya: Figur inspiratif. Silakan klik di https://indonesiana.tempo.co/lomba/figur-inspiratif.

Jika Anda seorang mahasiswa, tentu ini bisa menjadi port folio yang menarik bagimu untuk melamar pekerjaan nantinya. Jadi tunggu apalagi, segera ikuti lomba ini dan jangan lewatkan kesempatan baik ini.

 

Lomba Blog Indonesia #45tahun Tempo

Lomba Blog Indonesia #45tahun Tempo

 
Leave a comment

Posted by on February 8, 2016 in Journalism, News

 

Tags: , , ,

Going Home for Good

 

Hundreds of Papuans who fled to Papua New Guinea for political and security reasons have returned voluntarily to Indonesia. Often leaving both friends and relatives behind, they are returning to build new villages in Indonesian Papua. Tempo journalist, Martha Warta Silaban accompanied the refugess on their journey home which was organizes by the Indonesian government November 2009. This is her report.

Interlude – Going Home For Good

 
Leave a comment

Posted by on February 14, 2015 in Culture, Journalism, News, Women

 

Tags: ,

Asyik Reuni SD: After 24 Years Apart

Acara tukar kado menjadi penghujung sesi reuni 24 tahun SD St Agustinus Bandung, di Hotel Trans, pada 31 Mei 2014 lalu. Sebelumnya, kami 19 orang yang hadir di reuni itu bercanda tawa sambil santap siang. Persis candaan seperti kami masih berseragam merah putih.

Ngumpul sambil bercanda tawa.. Cheese dulu ah..

Ngumpul sambil bercanda tawa.. Cheese dulu ah..

 

Disusul dengan sesi foto bersama di tiga spot terbaik di hotel berbintang lima milik Chaerul Tanjung itu. Klik pertama diadakan di tangga lantai dasar, heboh.. Lalu di lantai 18, dan kami bisa menatap keindahan kota Bandung. Terakhir di lantai M, di sofa-sofa cantik dekat Ballroom. Cheese.. kami semua sumringah.

group foto di sofa

Group foto ketiga, setelah menjajal dua spot terbaik lainnya di Trans Hotel Bandung

Kapan reuni lagi? Kayaknya perlu sebulan lagi ketemu? Tahun depan tanggal-tanggal segini ketemu lagi.. Itu beberapa lontaran dari teman-teman.. (*Tata Silaban) 

the ladies

Katanya mantan finalis Putri Indonesia tahun 2000

 
Leave a comment

Posted by on June 21, 2014 in Education, Travel

 

Tags: , , , ,

Image

Pelangi Tuhanku di Jimbaran Bali

DSC_5350

 
Leave a comment

Posted by on April 27, 2014 in Culture, Travel

 

Tags: , ,

Tebing-tebing di Pesisir Norwegia

Image

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00, ketika aku duduk di dek 7, kapal Nordnorge, di Pelabuhan Bergen, Norwegia.  Kupandang dari balik jendela, hujan turun rintik-rintik membasahi kapal dan pesisir laut. Langit tampak mendung tetapi matahari belum terbenam.

Sayup terdengar dari balik pengeras suara seorang petugas mengabarkan kapal akan segera bergerak menyusuri pesisir menuju utara Norwegia. Perjalanan pun dimulai. Aku meninggalkan daratan dan akan menikmati fjord—keindahan alam yang dimiliki negeri maju ini.

Rasa penasaran akan fjord sudah muncul di benak saya, dua bulan sebelum perjalanan ini dimulai. Seorang kawan yang tinggal di Norwegia, merekomendasikanku untuk menikmati keindahan alam—termasuk fjord. “Karena itulah yang istimewa,” kata dia.

Biaya yang tidak sedikit, sempat menghalangiku untuk menikmati fjord dengan naik kapal ini. “Tetapi hidup cuma sekali,” kata kawan itu. Okelah..Tiket pun dipesan lewat online dari Indonesia, dan aku memesan satu kabin untuk perjalanan tiga hari, dua malam.

—-

Kapal Nordnorge pun bergerak pelan-pelan meninggalkan Bergen, kota yang dibangun oleh Raja Olav (Viking), sekitar 900 tahun lalu. Kota pelabuhan ini sibuk dengan  dengan urusan domestik dan internasional.

Sekarang juga menjadi pusat perdagangan komersial dengan Inggris dan Denmark atau kota-kota lainnya di utara Eropa. Disebut kota yang diapit tujuh gunung atau kota hujan.

Beberapa jam sebelum keberangkatan dengan kapal Nordnorge, aku pun merasakan hujan yang turun di kota Bergen. Kota yang cantik, dan menjadi tempat favorit turis. Sejenak, aku jadi teringat Bogor, yang dikenal dengan sebutan kota hujan di Tanah Air.

Lalu untuk menghilangkan rasa dingin, aku menyeduh teh sambil menyantap sepotong roti yang diberi olesan keju. Perbekalan berwisata sudah disiapkan sehari sebelum keberangkatan dengan berbelanja di sebuah supermarket di Oslo, ibu kota Norwegia. Ini alasan untuk menghemat. Dan karena di kapal, kami hanya diberi sarapan pagi, selebihnya membayar.

Adapun Oslo, menjadi tempat aku pertama kali menjejakkan kaki di Norwegia. Selama tiga hari aku menginap tiga hari di hotel di Rica Holberg, pusat kota. Sebelum berwisata, aku diundang sebagai salah satu peserta konferensi guna memperingati 100 tahun pengakuan terhadap hak-hak perempuan dalam memberikan suara  (Women’s Suffrage-Women’s Voices) yang diadakan Universitas Oslo Akerhuss.

Image

Dan mata ini belum juga mau diajak terpejam. Mungkin juga karena aku penasaran dengan matahari yang juga belum terlihat terbenam. Padahal malam sudah hampir pukul 23.00. Ya, di musim panas, Norwegia memiliki masa siang yang lebih panjang dibandingkan malam.

Kapal pun terus bergerak menuju utara. Dan jam sudah lewat tengah malam, aku pun bergeser ke kabin untuk istirahat..

Image

Di hari kedua, aku sudah bangun jam 5 pagi dan keluar kabin kapal Nordnorge (Nothern Norway) yang dioperasikan Hurtigruten-moda transportasi yang beroperasi sejak 1893. Aku melangkahkan kaki ke dek 7 kembali dan ingin menatap keindahan fjord.

Pasalnya aku gemas karena tidak dapat menikmati keindahan fjord dari kabinku yang terletak di bagian tengah kapal. Tidak tersedia jendela yang menatap ke laut.

Upaya sudah kulakukan untuk minta pindah kamar, tetapi awak kapal menyatakan semua kabin sudah terisi penuh. Kecuali aku ingin meng-upgrade kamar. Ah tak usahlah, malahan menambah biaya saja.

Subuh itu suasana di dek 7, masih sepi. Rasanya teduh hati ini memandang fjord di skandinavia ini. Seperti kedamaian yang terbentang di dalamnya. Apalagi ketika saya melihat rumah-rumah penduduk yang dibangun di bukit-bukit itu.

Dinding rumahnya terbuat dari kayu merah, putih atau hitam. Bak lukisan, rumah itu dibangun di antara hamparan hijau.  Bahkan ada yang terselip hanya satu rumah saja di bukit-bukit itu.

Image

Kemudian kira-kira pukul 8.00,  kapal berlabuh di Alesund. Alesund menjadi Art Nouveau (new art) Norwegia. Di sini aku melihat keindahan kota. Bersih dan bangunannya artistik. Dua orang penghuni kapal memilih berlabuh di Alesund. Di pusat informasi, mereka meminta petunjuk petugas untuk mencari tempat penginapan.

Tapi aku memilih terus melaju dengan kapal. Tepat pukul 13.00 kapal berhenti di Geirangerfjord.   Keindahan alam yang diberi label oleh Unesco PBB sebagai warisan dunia. Petugas kapal pun menyerukan lewat pengeras suara, bahwa kapal tengah melewati Geirangerfjord.

Aku pun segera menyiapkan topi untuk keluar dari tempat duduk di dek 7, menuju balkon terbuka. Dan rupanya sudah banyak turis lainnya ingin mengabadikan Geirangerfjord.

Keindahan fjord  Norwegia menjadi wisata alam nomor satu di Eropa Utara, khususnya di musim panas. Fjord adalah teluk yang terbentuk karena lelehan gletser atau tumpukan es yang sangat berat dan tebal. Fjord ditemukan di sepanjang pesisir Norwegia.

Namun Geirangerfjord, unik. Karena memiliki air terjun “Seven Sisters” atau tujuh air terjun yang berderet di satu bukit. Para penumpang di kapal  pun saling berburu mengabadikan air terjun itu. Berfoto sendiri, bersama pasangan, teman atau saudara.

Sore pun menjelang, saya kembali duduk-duduk di dek. Kadang pindah ke coffee shop atau berkunjung ke toko souvenir. Hal yang menarik adalah, seorang awak kapal bertugas bak petugas pos. Ia menempelkan perangko dan mencapnya di atas kartu pos yang dibeli penumpang dari toko souvenir.

Ya, aku lihat antrian mengular. Para penumpang ingin menyimpan kenang-kenangan telah naik kapal Nordnorge menyusuri pesisir Norwegia.

Di malam hari, saya kembali penasaran untuk melihat matahari terbenam. Kebetulan, aku tidak merasa sepi duduk di dek, karena sayup-sayup terdengar lagu dan musik yang didendangkan penyanyi di kafe. Lagi-lagi gelapnya malam baru terlihat menjelang tengah malam.

Ya, midnight sun atau matahari 24 jam menjadi keunikan yang dirasakan di utara Eropa ini. Awak kapal juga mengatakan bahwa jangan sampai tertidur selama berlayar, karena setiap momen yang dilalui kapal istimewa.

——

Di hari terakhir aku menyusuri pesisir Norwegia bersama dosenku, Dr Oni Sarwono dan suaminya Prof Atmono Budi, aku sudah siap dari pukul 07.00 dan pergi ke dek 4 untuk sarapan pagi. Menu sarapan pagi di kapal ini, sangatlah enak. Bahkan, ia menyediakan teh seduh, merek Twinnings—teh yang disajikan di Kerajaan Inggris.

Selama dua hari menikmati sarapan, aku selalu mencoba hampir semua penganan. Roti, buah, daging, keju, telur, susu dan yoghurt. Meja-meja pun ditata dengan rapi. Layaknya makan di restoran mahal. Aku melihat wajah-wajah penumpang yang antusias menikmati sarapan pagi mereka.

Kapal berlabuh di Trondheim, pukul 08.15. Perjalanan menyusuri pesisir pun, aku hentikan di sini. Karena, aku memilih untuk menikmati kota yang menjadi Ibu Kota Norwegia pertama kali, yang disebut kota mutiara.

Image

Di sinilah pertama kalinya orang Viking menjual barang-barang  sekitar 1000 A.D lalu. Di kota ini terdapat katedral Gothic Nidaros, tempat raja Norwegia menerima berkat.

MARTHA WARTA SILABAN

Published on 9th February 2012

http://koran.tempo.co/konten/2014/02/09/334378/Tebing-tebing–di-Pesisir-Norwegia

 
 

Tags: , , , , , , , , ,

Berkereta ke Bergen

Untuk menuju pelabuhan Bergen, aku bersama Dr Oni Sarwono dan Prof Atmonobudi naik kereta dari stasiun utama Oslo (Ostbanehallen). Kira-kira waktu tempuh tujuh jam dengan biaya satu kali perjalanan 499 kron (1 kron =Rp 2000) atau sekitar Rp 500 ribu.

Beruntung aku dapat duduk di dekat jendela, sehingga aku dapat menikmati pesona alam seperti yang termuat di laman visitnorway.com bahwa perjalanan naik kereta dari Oslo ke Bergen adalah pemandangan yang terbaik.

Jadwal keberangkatan pukul 08.05, dan kereta tepat melaju dari jalur tiga pada jam tersebut. Kereta yang didominasi warna oranye bergaris abu-abu itu bersih dan nyaman. Toiletnya kering, wangi dan lebar.

This little girl looks like a barbie :)

This train has facility for children. So, they can spend their time with fun on journey to Bergen

Apalagi aku kagum, dengan satu gerbong di belakangku yang didesain sebagai ruang bermain anak-anak. Di dalamnya disediakan buku bacaan, televisi yang memutar film anak, mainan anak-anak, matras, dan tangga-tangga kecil yang menembus gorong-gorong kecil.

Synnoue, seorang nenek yang menemani cucunya Sigurd, 5 tahun dengan ramah bercakap-cakap denganku. Ia mengatakan memilih naik kereta ke Bergen dibandingkan pesawat. “Pesawat mahal, saya juga repot harus check ini,” kata dia tersenyum.

Lagipula kata dia, fasilitas di kereta ini menyenangkan. “Bermain bagus untuk fisik mereka,” kata dia. Menurut dia, ada beberapa kereta di Norwegia yang menyediakan fasilitas bermain untuk anak-anak.

Sepanjang perjalanan, aku menikmati keindahan alam. Aku hanya tertidur sebentar. Kereta beberapa kali berhenti untuk “menjemput” penumpang dan melewati terowongan panjang dan pendek.

Dari hasil penelusuranku di internet dikatakan bahwa pembangunan jalur rel ini dimulai sejak 1875, memerlukan waktu 34 tahun untuk menyelesaikannya. Sekitar 15 ribu orang bekerja. Sebanyak 182 terowongan dikerjakan dengan tangan.

Disebutkan juga bahwa jalur Oslo-Bergen mempesona dengan bentangan spektakuler Hardangervidda, plateu gunung tertinggi di Eropa. Di Hardargervidda, yang berjarak 200 kilometer dari Oslo menjadi kawasan kemping yang menarik bagi warga Norwegia. Kaya akan variasi tanaman dan binatang terdapat sekitar 500 spesies.

Passing through Finse, Norway on our way to Bergen.

Passing through Finse, Norway on our way to Bergen.

Perjalanan dengan kereta ini juga melewati daerah ski (dan resor ski). Rumah-rumah kayu yang dicat merah. Dosenku, ibu Oni mengatakan bahwa kebanyakan rumah di Norwegia berwarna merah, karena lebih hangat.

Aku pun menemui “keajaiban” . Karena dapat melihat salju. Padahal ini musim panas. Tepatnya di Finse, yang berjarak 302,1 kilometer dari Oslo atau 169,1 kilometer dari Bergen.  Finse berada di ketinggian 1,222 meter di atas permukaan laut yang paling tinggi di sini.

MARTHA WARTA SILABAN

Published on Koran Tempo, Sunday 9th February 2013

http://koran.tempo.co/konten/2014/02/09/334378/Tebing-tebing–di-Pesisir-Norwegia

 
Leave a comment

Posted by on February 11, 2014 in Culture, Education, Travel

 

Tags: , , ,